Review Buku Agama Tanpa Tuhan
Jika agama dibawa dalam rumus kepentingan, maka ia tidak akan pernah tampil menjadi sebuah ajaran yang dapat mendorong diri dan jiwa manusia untuk menemukan Tuhan yang sesungguhnya.


Review Buku Agama Tanpa Tuhan

Buku ini saya beli sejak masih duduk di bangku perkuliahan, saya tertarik dengan judulnya yang sungguh menggelitik "Agama Tanpa Tuhan". Mungkin bagi kalian melihat judulnya saja, sepertinya buku ini bisa merusak keyakinan ku. Teman-teman harus ingat "jangan hanya menilai buku itu dari covernya saja", baca dulu bukunya baru simpulkan. hehee

Buku "Agama Tanpa Tuhan" , Sebenarnya buku ini lebih kepada novel dimana didalamnya berisi rangkaian catatan perjalanan hidup manusia yang bernama Bert yang bergelut antara mempertahankan cinta, mengabdi karenanya, atau berlari darinya. Ketika membaca buku ini, dapat kembali menghidupkan jiwa-jiwa kemanusiaan yang mungkin telah kita tinggalkan sebagian atau sepenuhnya.

Kemanusiaan yang saat ini sebagiannya telah kering diterkam panasnya matahari dan kuatnya cengkeraman kebudayaan yang jauh dari nilai-nilai kemanusiaan yang dekat dengan nilai-nilai Ketuhanan.

Cecep Sumarna Menggambarkan Esensi Kemanusiaan Dalam Buku "Agama Tanpa Tuhan"

Bert dalam buku ini diperankan sebagai perangkai peristiwa yang dalam kasus-kasus tertentu terkesan sangat imaginer. Ia melompat membangun fenomena menjadi fenomena yang unik.

Bert yang selalu rindu dengan suasana desanya yang dulu, di dalamnya hidup manusia yang mengambil jarak dari sikap yang berpura-pura. Semua dinamika terjadi dengan siklus kehidupan yang teratur, sebuah desa harapan. Namun, kini Bert mulai sadar, yang hidup belum tentu benar-benar hidup. Bisa jadi matilah yang sesungguhnya hidup. 

Kerinduan itu makin terasa ketika ternyata, saat ini dia hidup di alam terbuka yang penuh dengan dusta. Menyaksikan senyum yang tak lagi mengandung arti senang. Menangis tak mengandung arti sedih. Murung tak mengandung arti berada dalam duka lara. Berpeci dan sarung tidak mengandung tanda kesucian. Ia merindukan suasana masa lalu karena di masa itulah, manusia dapat menemukan kehidupan yang sesungguhnya.

Misalnya dalam suatu percakapan antara Bert dengan sHe. Bert berkata" sHe, dikampung ku kini berubah. Tradisi yang dimana Bert sebelumnya kagum, atas apapun yang berada di desanya puluhan tahun yang lalu. Desa yang dulunya tidak dibelah. Tidak ada Islam dalam belahan-belahan sempit. Tidak ada Islam NU, Islam Muhammadiyah. Tidak ada Islam versi pesantren, Islam versi sekolah umum, Islam versi pedalaman, Islam versi Timur Tengah dan Eropa-Barat. Islam ya Islam. Islam tanpa simbol. Kampung yang masyarakat Muslimnya tetap menggunakan mesjid yang satu, mereka berkumpul mendiskusikan apapun di dalamnya.

Berbagai kisah di dalam buku ini sungguh memberikan perenungan, introspeksi terhadap kehidupan beragama kita, yang kini mulai hidup bersekat-sekat. Yang kini mulai mencaci maki kelompok lain. Menghina dan menyalahkan bahkan mengkafirkan. Kapan Tuhan memberikan kita legitimasi untuk mengkafirkan yang lain? 

Buku ini menyajikan sejumlah edukasi yang menyuguhkan kegelisahan sekaligus sejumlah harapan tentang masa depan bumi dan manusia. Menyajikan sejumlah narasi yang kadang konyol tetapi tidak jauh dari fenomena kehidupan manusia yang dinamis. Seperti kata Bert, bahwa hanya kalau manusia mampu hidup di alam plurallah, kasih sayang dan rasa cinta Tuhan dapat hadir di dalam dan bersamanya.

Buku ini sangat inspiratif dan menjunjung nilai kemanusiaan. Ia marah akan kemungkinan bergeraknya kekuatan yang menahbiskan bahwa Tuhan tidak eksis, tetapi akan lebih marah jika ternyata ditemukan di sebagian orang yang mengatasnamakan agama dan Tuhan, rela membunuh kemanusiaan.

Untuk teman yang ingin menambah khazanah pemahamannya tentang Islam cocok banget untuk membaca buku ini. Disajikan dengan mengisahkan sebagiannya sebagi kisah nyata, dengan beberapa pola elaborasi sehingga pembaca tidak jenuh.

Tentang Penulis "Agama Tanpa Tuhan"

Cecep Sumarna, merupakan penulis yang dibesarkan dalam kultur santri kampung, telah menjadi penulis produktif dengan menghasilkan tidak kurang dari 201 tulisan dalam bentuk koran, 17 dalam Jurnal ilmiah, dan telah menerbitkan 10 judul buku.

Ada beberapa bukunya juga yang judulnya tidak kalah menggelitik "Menemukan Tuhan di Altar Keabadian Cinta", "Mencari Titik Keseimbangan: Mencari Alasan Ilmiah Kenapa Mesti Bertuhan", yang bisa kita tambahkan dalam koleksi buku bacaan di temani kopi.

Nah, buat teman-teman yang tertarik untuk membeli buku ini, bisa anda beli di Remaja Rosdakarya. Sekian dari saya, terima kasih.😉

Judul : Agama Tanpa Tuhan
Penulis : Cecep Sumarna
Penerbit : Remaja Rosdakarya
Harga : Rp 60.000
Tebal : 300 Halaman
Cetakan Pertama : April 2016

5 Komentar

  1. Terimah kasih telah memberikan referensi berupa buku yg tentunya bisa menambah literasi kita dalam hal kepercayaan.👍

    BalasHapus
  2. Judul bukunya hampir sama denga buku Bertuhan Tanpa Agama karya Bertrand Russel.

    Jadi penasaran sama isinya

    BalasHapus
    Balasan
    1. iyya bang, tapi klw buku ini lebih kepada agama Islam sendiri.

      Hapus
  3. Bukunya keren kak.bagus jadi asupan otak.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Bukunya rekomended banget untuk dibaca mas

      Hapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama