Review Buku Islam Sontoloyo

Pada kesempatan kali ini saya akan Review Buku Islam Sontoloyo karya dari Bapak Presiden Pertama Republik Indonesia, Soerkarno. Siapa sih yang tidak mengenal beliau? Salah satu anak Bangsa yang dikenal sebagai tokoh pergerakan, Proklamator RI, Panglima Besar Revolusi Indonesia, dan berbagai gelar lain yang disandangnya.

Beliau juga seorang intelektual dan pembaharu Islam. Banyak tulisannya yang membahas perlunya pembaharuan Islam, sangat berjasa bagi perkembangan pemikiran Islam di Indonesia. Namun gelar "Pembaharu Islam" itu dicabut daripadanya. Banyak yang menilai literatur dari Bapak Soekarno lebih banyak berkiblat pada karya orientalis, dengan demikian tidak berasal dari sumber-sumber Islam secara langsung.

Review Buku Islam Sontoloyo

Buku Islam Sontoloyo inipun menggemparkan jagad pemikiran Islam di Indonesia, betapa tidak buah pemikiran Soekarno ini dianggap ekstrem dalam menawarkan pembaharuan Islam. Bahkan juga membuahkan polemik dengan salah satu Perdana Menteri yaitu Mohammad Natsir, siapa sih yang tidak kenal dengan beliau ini. Seorang ulama, pejuang kemerdekaan Indonesia. Beliau juga adalah pendiri sekaligus pemimpin partai Masyumi dan tokoh Islam terkemuka Indonesia.

Perselisihan dengan Soekarno inilah sehingga Mohammad Natsir mengundurkan diri dari jabatannya sebagai Perdana Menteri Indonesia Kelima pada saat itu. Setelah mengundurkan diri, justru beliau semakin lantang menyuarakan pentingnya Islam di Indonesia.

Buku ini jika dilihat dari judulnya saja sangat menyengat. Saya membaca buku ini karena ingin tau bagaimana sih pemikiran Bapak Presiden Pertama kita dalam melihat Islam. Beliau adalah orang intelektual tentu punya alasan yang mendasar kenapa mempunyai sudut pandang seperti itu. Kadang kita dalam hidup terlalu cepat menghakimi seseorang tanpa tau alasan orang tersebut. 

Islam Menurut Soekarno

Soerkarno sendiri tak pernah mendapat didikan agama yang teratur dari orang tuanya. Dia menemukan sendiri Islam ketika menginjak usia 15 tahun, pada saat mengikuti Pak Cokro. Masuk dalam satu organisasi agama dan sosial yang bernama Muhammadiyah. 

Ketika kita tarik dalam kehidupan kita sendiri, sudahkah kita menemukan Islam berdasarkan hasil dari pencarian kita sendiri. Islam yang bukan karena kita memang terlahir sebagai Islam, bukan hanya sekedar Islam keturunan. 

Dalam buku ini, Soekarno banyak mengkritik terkait hubungan kita dengan Tuhan, hubungan dengan sesama manusia, hubungan Islam dengan ilmu pengetahuan.

Seperti kata beliau hendaknya Negara Indonesia ialah negara yang tiap-tiap orangnya dapat menyembah Tuhannya dengan cara yang leluasa. Mengamalkan jalannya agama, baik Islam maupun agama yang lain dengan cara yang berkeadaban. Saling menghormati satu sama lain.

Melihat kehidupan beragama saat ini, banyak dari kita mengklaim bahwa agama kitalah yang paling benar yang lain salah. Setiap individu tentu punya caranya masing-masing untuk mengenal Tuhannya. Tunjukkan saja kebaikan-kebaikan dari agamamu, jangan sibuk untuk menyalahkan agama lain. Itu sih yang saya tangkap dari pendapat beliau.

Terkait dengan hubungan dengan sesama manusia, saya menggaris bawahi ketika beliau menyatakan bahwa masalah muslim indonesia lebih mementingkan kulit, lupa isi. Dia berkata Islam melarang kita makan babi, Islam juga melarang kita menghina si miskin, memakan hak anak yatim, menyekutukan Tuhan. Tapi apa yang kita lihat? coba hina si miskin, makan haknya anak yatim, memfitnah orang lain. Maka orang akan berkata, tuan menyalahi Islam. Tetapi coba makan daging babi, walau hanya sebesar biji  asampun seluruh dunia akan menyatakan tuan orang kafir!.

Kritikan yang seperti ini memaksa kita untuk berpikir kembali. Iyya yah! kok selama ini banyak yang mempermasalahkan hal yang sebenarnya tidak perlu untuk di permasalahkan. Toh, kafirnya orang bukan kita yang tentukan. Justru ada hal yang lebih substansial, yang jauh lebih perlu untuk kita perhatikan. Tapi kita luput dari itu!.

Hubungan Islam dengan ilmu pengetahuan, bagi Soekarno bagaimanakah orang bisa mengerti betul-betul firman Tuhan, bahwa segala sesuatu dibuatnya "berpasang-pasangan", kalau tak mengetahui biologi, tak mengetahui elektron, tak mengetahui positif dan negatif, tak mengetahui aksi dan reaksi? Dan bagaimanakah mengerti ayat-ayat yang meriwayatkan Iskandar Zulkarnain, kalau tak mengetahui sidikit sejarah dan arkeologi?

Seperti pendapat Albert Einstein bahwa "Ilmu tanpa Agama itu buta, Agama tanpa Ilmu itu pincang"

Mungkin itulah Review Buku Islam Sontoloyo karya dari Ir.Soekarno. Setiap orang bisa punya sudut pandang yang berbeda, dan itulah sudut pandang saya dalam membaca buku ini. Silahkan baca bukunya jika ingin menyelami pemikiran Soekarno terhadap Islam. Jika ingin mengetahui kritikan Mohammad Natsir terhadap buku ini, anda bisa membaca buku "Islam dan Akal Merdeka". 

Bukan Islamnya yang sontoloyo, tapi orang-orang di kalangan kita atau mungkin diri kita sendiri yang pemahaman Islamnya masih Islam Sontoloyo. Terima Kasih.!



1 Komentar

  1. Buku ini pernah saya baca. Dan betul memberikan sudut pandang yang berbeda dari selama ini yang saya pahami. Menarik buku nya😊

    BalasHapus

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama